Indahnya JOGJA

Malioboro

Menyusuri jalan sepanjang 1 Km pastinya akan sangat melelahkan, tapi disinilah letak dari Jantung Kota Yogyakarta. Kenangan dan cerita bersejarah dari jalan ini menjadikan Malioboro menjadi pusat utama wisata di Yogyakarta.

Malioboro memang sengaja dibangun di jantung kota Yogyakarta oleh pemerintah Kolonial-Belanda di awal abad ke-19 sebagai pusat perekonomian dan pemerintahan. Untuk tujuan tersebut didirikanlah : Benteng Vredenburg, Istana Karesidenan Kolonial, Pasar Beringharjo, Hotel Garuda, dan kawasan pertokoan sebagai pusat perekonomian Maliboro sendiri. Bangunan-bangunan bersejarah yang terletak dikawasan Maliboro ini menjadi saksi bisu perjalan kota yang kerap disebut sebagai kota pelajar ini.

Sebagai kawasan wisata, kawasan malioboro menyajikan berbagai ragam variasi aktivitas berbelanja. Mulai dari cara berbelanja tradisional khas Malioboro, hingga cara berbelanja dengan cara modern.

Beragam cara khas berbelanja di malioboro adalah tawar-menawar berbagai cindera mata yang di jajakan oleh pedagang-pedagang kaki lima di sepanjang jalan ini. Sebagai contoh saya pernah membeli cindera mata khas Yogyakarta di salah satu pedagang yang berada di Malioboro, pada awalnya mereka menawarkan dengan harga yang cukup tinggi, Rp 50.000  misalnya. Tapi setelah saya lakukan tawar-menawar harga akhir yang saya dapat adalah Rp 10.000. Sangat unik bukan😆

Oleh karena itu, Malioboro sering didatangi berbagai wisatawan lokal maupun mancanegara. Ada yang berbelanja atau sekedar melihat-lihat suasana kota Yogyakarta dan sambil bernostalgia tentang sejarah Malioboro ini.

Untuk akses jalan ke kawasan malioboro ini pun sangat mudah. Karena kawasan ini adalah Jantung Utama Kota Yogyakarta.

Bagaimana…..?? Penasaran kan….. silahkan datang sendiri dan buktikan kebenaranya..:mrgreen:

About Kang Java

Sekedar berbagi tentang pengalamanku

Diskusi

13 thoughts on “Malioboro

  1. Malioboro emang tiada duanya…salam kenal!

    Posted by abi_gilang | Agustus 27, 2011, 9:56 am
  2. Malioboro kayak cinta pertama sulit dilupakan …..

    Posted by Reza Apriansyah | Januari 11, 2012, 5:32 pm
  3. Membentang di atas sumbu imajiner yang menghubungkan Kraton Yogyakarta, Tugu dan puncak Gunung Merapi, jalan ini terbentuk menjadi suatu lokalitas perdagangan setelah Sri Sultan Hamengku Buwono I mengembangkan sarana perdagangan melalui sebuah pasar tradisional semenjak tahun 1758. Setelah berlalu 248 tahun, tempat itu masih bertahan sebagai suatu kawasan perdagangan bahkan menjadi salah satu ikon Yogyakarta yang dikenal dengan Malioboro.
    Terletak sekitar 800 meter dari Kraton Yogyakarta, tempat ini dulunya dipenuhi dengan karangan bunga setiap kali Kraton melaksanakan perayaan. Malioboro yang dalam bahasa sansekerta berarti “karangan bunga” menjadi dasar penamaan jalan tersebut.
    Diapit pertokoan, perkantoran, rumah makan, hotel berbintang dan bangunan bersejarah, jalan yang dulunya sempat menjadi basis perjuangan saat agresi militer Belanda ke-2 pada tahun 1948 juga pernah menjadi lahan pengembaraan para seniman yang tergabung dalam komunitas Persada Studi Klub (PSK) pimpinan seniman Umbul Landu Paranggi semenjak tahun 1970-an hingga sekitar tahun 1990.

    Menikmati pengalaman berbelanja, berburu cinderamata khas Jogja, wisatawan bisa berjalan kaki sepanjang bahu jalan yang berkoridor (arcade). Di sini akan ditemui banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya. Mulai dari produk kerajinan lokal seperti batik, hiasan rotan, wayang kulit, kerajinan bambu (gantungan kunci, lampu hias dan lain sebagainya) juga blangkon (topi khas Jawa/Jogja) serta barang-barang perak, hingga pedagang yang menjual pernak pernik umum yang banyak ditemui di tempat perdagangan lain. Sepanjang arcade, wisatawan selain bisa berbelanja dengan tenang dalam kondisi cerah maupun hujan, juga bisa menikmati pengalaman belanja yang menyenangkan saat menawar harga. Jika beruntung, bisa berkurang sepertiga atau bahkan separohnya.

    Jangan lupa untuk menyisakan sedikit tenaga. Masih ada pasar tradisional yang harus dikunjungi. Di tempat yang dikenal dengan Pasar Beringharjo, selain wisatawan bisa menjumpai barang-barang sejenis yang dijual di sepanjang arcade, pasar ini menyediakan beraneka produk tradisional yang lebih lengkap. Selain produk lokal Jogja, juga tersedia produk daerah tetangga seperti batik Pekalongan atau batik Solo. Mencari batik tulis atau batik print, atau sekedar mencari tirai penghias jendela dengan motif unik serta sprei indah bermotif batik. Tempat ini akan memuaskan hasrat berbelanja barang-barang unik dengan harga yang lebih murah.

    Berbelanja di kawasan Malioboro serta Beringharjo, pastikan tidak tertipu dengan harga yang ditawarkan. Biasanya para penjual menaikkan harga dari biasanya bagi para wisatawan.

    Di penghujung jalan “karangan bunga” ini, wisatawan dapat mampir sebentar di Benteng Vredeburg yang berhadapan dengan Gedung Agung. Benteng ini dulunya merupakan basis perlindungan Belanda dari kemungkinan serangan pasukan Kraton. Seperti lazimnya setiap benteng, tempat yang dibangun tahun 1765 ini berbentuk tembok tinggi persegi melingkari areal di dalamnya dengan menara pemantau di empat penjurunya yang digunakan sebagai tempat patroli. Dari menara paling selatan, YogYES sempat menikmati pemandangan ke Kraton Kesultanan Yogyakarta serta beberapa bangunan historis lainnya.
    Sedangkan Gedung Agung yang terletak di depannya pernah menjadi tempat kediaman Kepala Administrasi Kolonial Belanda sejak tahun 1946 hingga 1949. Selain itu sempat menjadi Istana Negara pada masa kepresidenan Soekarno ketika Ibukota Negara dipindahkan ke Yogyakarta.

    Saat matahari mulai terbenam, ketika lampu-lampu jalan dan pertokoan mulai dinyalakan yang menambah indahnya suasana Malioboro, satu persatu lapak lesehan mulai digelar. Makanan khas Jogja seperti gudeg atau pecel lele bisa dinikmati disini selain masakan oriental ataupun sea food serta masakan Padang. Serta hiburan lagu-lagu hits atau tembang kenangan oleh para pengamen jalanan ketika bersantap.
    Bagi para wisatawan yang ingin mencicipi masakan di sepanjang jalan Malioboro, mintalah daftar harga dan pastikan pada penjual, untuk menghindari naiknya harga secara tidak wajar.
    Mengunjungi Yogyakarta yang dikenal dengan “Museum Hidup Kebudayaan Jawa”, terasa kurang lengkap tanpa mampir ke jalan yang telah banyak menyimpan berbagai cerita sejarah perjuangan Bangsa Indonesia serta dipenuhi dengan beraneka cinderamata. Surga bagi penikmat sejarah dan pemburu cinderamata.

    Posted by Gerizal | Januari 25, 2012, 1:02 am
  4. Wah keren pengen banget kesana..

    Posted by Rizma | Februari 25, 2012, 2:16 pm
  5. Diri ku ingin keyogyakarta

    Posted by rini | Juni 27, 2012, 11:33 am
  6. yogya benar-benar top deh, selain kuliner dan adat istiadatnya yang melekat, tempat wisatanya juga sangat indah-indah (y)

    Posted by ace maxs | Juni 6, 2014, 2:09 pm
  7. beda banget keadaan Malioboro jaman dahulu dengan sekarang yaaa..

    Posted by mobil datsun bandung | April 1, 2015, 7:44 pm
  8. kamu ke jogja? nggak tahu malioboro. kemana aja kamu? -___- hotel murah di jogja

    Posted by hotelmurahdijogja | Agustus 12, 2015, 8:39 pm
  9. wahhh ternyata beda banget ya jaman dulu sama jaman sekarang..
    terimakasih😉

    Posted by obatdiabetesalamijg.com | Desember 17, 2015, 8:41 am

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: